Si Unyil Lagi Boring...nge-BLOG!!!

Blog EntryInilah Realita!Jul 11, '08 3:17 AM
for everyone
Mungkin sudah dari dulu banyak orang yang ingin menjadi selebriti atau pesohor papan atas karena nama dan wajahnya selalu dikenal, sosok menawan dan kekayaan berlimpah. Menjadi selebriti memang terkesan melengkapi segalanya, tidak heran banyak orang yang selalu mengidolakan artis kesayangannya untuk menjadi panutan sehari-hari baik apa yang dilakukan, dipakai, dibicarakan maupun dikonsumsi oleh sang seleb itu sendiri. Tapi, apakah menjadi selebriti itu selalu menyenangkan dan berdampak baik bagi para penggemar si seleb itu sendiri?

Mungkin anda semua yang membaca tulisan saya ini mengerti apa yang saya maksud (dan saya harap begitu!), bahkan saya sendiri selalu bermimpi untuk menjadi seorang pesohor dunia perfilman seperti Steven Spielberg, Federico Fellini, Quentin Tarantino atau Nia Dinata dan Mira Lesmana. Ya setidaknya begitulah...setiap orang ingin memiliki mimpi dan cita-cita yang luar biasa tinggi boleh-boleh saja bukan?

Dan dengan nama-nama yang saya sebutkan di atas tadi tentunya tidak lupa dengan usaha mereka hingga mencapai puncak karier mereka masing-masing, dan bagaimana mereka mengatasinya. Spielberg mungkin tidak akan menjadi pesohor media perfilman Hollywood jika ia tidak bertemu produser besar yang mau mensponsori proyek anehnya dan ditambah ia tidak diterima di USC (University of Southern California), Fellini mungkin tidak akan cukup terkenal jika filmnya tidak 'unik' dan 'aneh', Tarantino mungkin tidak akan populer jika tidak membuat trademark film gangster-mafia sadis nan sableng, serta Nia Dinata dan Mira Lesmana mungkin karya dan usahanya tidak akan dihargai masyarakat jika mereka terus bergantung menggunakan nama besar ayah mereka yang bisa menjadi beban dan bumerang bagi karier mereka sendiri. Tapi buktinya dengan cita-cita dan impian yang tinggi mereka bisa berhasil seperti sekarang ini, rasanya patut sekali mereka dihargai dengan segala talenta dan kekurangan maupun kelebihan yang mereka miliki serta perjalanan panjang yang mewarnai karier mereka...hasilnya? LUAR BIASA!

Namun jaman dan teknologi semakin maju, dan rupanya sekarang ini menjadi orang terkenal tidaklah harus bertalenta luar biasa menjanjikan maupun memiliki suatu bakat yang istimewa. Dengan munculnya reality show di televisi kita baik buatan dalam negeri maupun Internasional, acara seperti Joe Millionaire, Idol franchises (Indonesian, Asian, American dan versi orisinalnya Pop Idol), Akademi Fantasi, Mamma Mia, The Simple Life, Laguna Beach serta The Hills yang mulai sering menghiasi kotak ajaib di rumah kita. Nama-nama yang biasanya tidak kita kenal sebelumnya seperti Paris Hilton, Nicole Richie, Spencer Pratt dan Heidi Montag secara tiba-tiba menjadi pembicaraan khalayak ramai karena kemunculan mereka dalam reality show seperti The Simple Life dan The Hills, dimana mereka hanya tampil dalam keadaan seadanya sesuai dengan situasi reality show yang ada meskipun situasi tersebut diarahkan dengan adanya skript. Dan paling membuat saya heran adalah apakah benar Paris Hilton dan Spencer Pratt di dunia nyata benar-benar sebodoh yang ditampilkan di TV?

Saya sebenarnya cukup kesal dengan adanya kemunculan reality show di televisi, entah kenapa setiap saya memutar TV dan mengganti saluran TV selalu muncul acara sejenis? Indosiar yang ratingnya mulai menanjak kembali pasca Akademi Fantasi (AF) dengan acara reality talent show seperti Mamma Mia serta acara-acara senada yang menurut saya benar-benar merusak citra televisi kita. Sebegitu tingginya rating acara senada membuat para produser semakin gencar menayangkannya, jenuh? Tentu saja! Dan dampak yang lebih parahnya lagi acara seperti ini dibuat versi anak-anaknya yaitu Idola Cilik, yang menampilkan anak-anak dibawah umur untuk bernyanyi dan tampil layaknya orang dewasa.

Hasilnya, para manusia untalented jebolan reality show itu setelah terkenal menjadi besar kepala tidak terkendali, yang mungkin hasil dari terkenal mendadaknya dari titik nol dimana ia bukan siapa-siapa dan keesokan harinya menjadi pusat perhatian banyak orang. Seperti Spencer Pratt atau dari Indonesia seperti Januarisman alias Aris misalnya, Aris bukanlah siapa-siapa sebelum mengikuti audisi Indonesian Idol namun setelah tayangan audisi dan mulai memasuki babak finalis Aris rupanya semakin besar kepala dengan talentanya tersebut (dan ditambah pujian yang dilayangkan para juri yang nyaris tanpa cela). Bayangkan saja apa yang dialami Aris memang luar biasa untuknya, dari penyanyi jalanan secara semalam menjadi seorang superstar. Isu besar kepala Aris juga saya dengar dari orang-orang dalam Idol yang menjadi saksi bisu kalau Aris kerap kali berlebihan akan talentanya, beruntung belakangan Aris mulai sadar diri ketika di suatu babak ia masuk tiga terbawah. Lalu dengan Spencer Pratt? The UnknownUntalented Man jebolan The Hills ini mengesalkan luar biasa, selain beradu mulut dengan David Letterman di The David Letterman Show ia juga dengan sombongnya memamerkan penghasilannya selama ini, hasil kebodohannya dari acara The Hills dan kedatangannya di acara besar tertentu dimana ia dibayar puluhan hingga ratusan ribu dollar.

Kesimpulannya, reality show tidaklah berguna besar. Mengapa? Karena memamerkan gaya hidup dan penggambaran keseharian yang luar biasa negatif untuk dikonsumsi banyak orang, serta mempengaruhi para generasi muda sekarang ini. Saya heran mengapa teman-teman sekolah saya ingan menjadi seperti Heidi Montag atau Paris Hilton dengan mengikuti gaya hidup dan bicaranya, serta apa yang digunakan si selebriti di majalah sampai mereka mau membelinya. Membeli pakaian mahal serta tas ataupun ke pesta-pesta di beberapa klub di ibukota meskipun usia mereka masih dibawah umur (ada lho adik kelas saya yang berusia 13 tahun!), serta mengikuti gaya hidup bebas seperti seks dan alkohol yang sudah pasti menjadi bukan rahasia lagi (karena saya tahu siapa saja mereka yang pernah mengalaminya). Sungguh memprihatinkan, gadis semuda dia (13 tahun) mengalami semua lebih cepat yang bahkan belum saya alami sama sekali!

Namun tidak semua reality show berpengaruh besar dalam kehidupan nafsu duniawi seperti itu, acara reality lain yang luar biasa mengetuk hati rupanya juga mulai banyak menghiasi acara televisi kita. Acara-acara buatan Helmy Yahya (saya lupa judulnya!), Jalinan Kasih, Extreme Makeover: Home Edition hingga yang mengesalkan-namun-menghibur Nanny 911 berhasil membuat saya menangis bombay. Acara-acara seperti ini rupanya bisa membuat kita sadar dan membuka mata hati kita akan banyaknya orang yang tidak seberuntung kita dan pertolongan sekecil apapun (atau besar, seperti renovasi rumah kecil) rupanya sudah menjadi hal yang sangat mereka syukuri seumur hidup mereka, dan membuat kita berpikir dan memposisikan diri kita sebagai mereka. Serta Nanny 911 yang membuat saya bersyukur akan kebersamaan serta kekeluargaan yang tertata harmonis, melihat bagaiman kehidupan rumah tangga yang sudah diambang pintu menjadi terjalin kembali dengan kebersamaan yang terjalin dalam sebuah keluarga.

Lepas dari semua yang saya jelaskan di atas kita kembali ke pertanaan awal, apakah menjadi selebriti itu selalu menyenangkan dan berdampak baik pada para penggemar si seleb itu sendiri? Tentunya tidaklah selalu menyenangkan, mungkin diantara mereka ada yang luar biasa senang namn di balik topeng sang penghibur mungkin dunianya luar biasa gelap dan beresiko untuk dirinya dan orang disekitarnya yang menjadikan dirinya sebagai panutan. papun yang terjadi mungkin tidak selamanya salah sang bintang yang menjadi contoh, namun kesadaran kita sendiri dalam membentengi diri dalam iman, nafsu dunia dan akhirat.

emokidonlastevening wrote on Jul 12
maap tyt mbak -.-
cherika wrote on Jul 13
Bagus nisss tulisannya.. Rajin rajin lah menulis hehe..
atau kirim2 artikel feature dsb.. Lumayan lhhoo
bukanlahanakajaib wrote on Jul 13
Thanks
thebimz wrote on Jul 13
bagus fan tulisan mu...
^^
arsyidahamdah wrote on Jul 14
heran ya,sekarang seleb malah didenger daripada guru or ajaran agama

*sigh*
bukanlahanakajaib wrote on Jul 14
Betul sekali...kasian guru2 agama ya, di skul gw smua pada gosipin artis klo dengerin guru agama jelasin pelajaran...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help